Penemuan Mahasiswa, Bisa Ular Jadi Obat Kanker Payudara

Penemuan Mahasiswa, Bisa Ular Jadi Obat Kanker Payudara

Penemuan Mahasiswa, Bisa Ular Jadi Obat Kanker Payudara

Penemuan Mahasiswa, Bisa Ular Jadi Obat Kanker Payudara
Penemuan Mahasiswa, Bisa Ular Jadi Obat Kanker Payudara

Selama ini penderita kanker payudara kerap berhadapan dengan obat atau terapi khusus untuk bisa sembuh. Tapi tidak jarang orang yang meninggal akibat menderita kanker payudara. Bahkan, di kanker payudaya masih menjadi pembunuh nomor dua setelah kanker serviks (mulut rahim).

Kini untuk kanker payudara, Revo Prambudi, mahasiswa jurusan Kimia FMIPA Universitas Andalas (Unand) Padang menemukan obat terbaru, yakni dari bisa ular.

Dilansir dari Padang Ekspres (Jawa Pos Group), temuan Revo berasal dari hasil karya ilmiahnya yang berjudul ‘Efek Sitotoksik Bisa Ular Tropidolaemus Wagleri terhadap Sel Kanker Payudara Manusia Tipe MCF-7’.
Ular Pohon
Ilustrasi Ular (.com)

Berdasarkan penelitian tersebut, Revo mengungkap manfaat bisa ular sebagai pengobat kanker payudara.

Zat sitotoksik yang terkandung dalam bisa ular dapat bekerja dan menekan intensitas sel kanker, khususnya kanker payudara. Hingga saat ini, hasil penelitian ini sudah dibuktikan lewat berbagai uji labor. Namun, tentunya tetap harus dikaji lebih mendalam lagi lewat uji lebih lanjut.

“Sejauh ini, potensi bisa ular masih belum dikembangkan. Kebanyakan hanya untuk pembuatan serum anti-bisa ular. Padahal banyak kandungan yang bermanfaat dalam bisa ular,” ujar Revo.

Pria kelahiran 1995 itu menceritakan, ketertarikan meneliti bisa ular ini tak lepas dari keinginannya mengubah paradigma masyarakat bahwa ular bukan hanya hama atau binatang berbahaya, melainkan juga bisa menjadi obat.

Dalam penelitiannya itu Revo khusus meneliti bisa ular pohon yang didapatkannya di hutan kawasan kampus Unand. Setelah bisa ular itu diambil, Revo pun melepas kembali ular tersebut. Di samping itu, dia juga memeliharanya di rumah. “Kebetulan di belakang Unand ada hutan yang cukup lebat, ularnya saya cari di sana. Terlebih, ular pohon ini cukup mudah ditemukan di alam bebas,” kata mahasiswa semester IX tersebut.

Dia menyebut, pengujian terhadap hasil penelitiannya ini sudah diujicobakan

di laboratorium biomedik yang diawasi oleh dokter spesialis di bidang kanker. Untuk di Indonesia, penelitian menggunakan bisa ular pohon adalah yang pertama. Di dunia memang sudah ada beberapa penelitian serupa, seperti di Australia dan India. Hanya saja penelitiannya menggunakan bisa ular kobra atau ular tanah.

“Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan, bisa ular cintomani/cantik manis dalam dosis tertentu dapat membunuh sel kanker. Namun, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan apa saja yang benar-benar spesifik untuk membunuh sel kanker,” lanjutnya.

Kandungan bisa ular dapat berbahaya bagi tubuh karena konsentrasi enzim

dan protein dalam bisa dosisnya melebihi kesanggupan tubuh. “Makanya, saya lebih memfokuskan penelitian ini untuk mencari konsentrasi/dosis bisa yang tepat, sehingga bisa ular tersebut tidak berbahaya bagi tubuh, namun dapat membunuh sel kanker.

“Uji coba yang dilakukan saat penelitian kemarin, baru sebatas mengujicobakannya kepada sel kanker yang dibiakkan di laboratorium. Ke depannya, bakal diujikan ke hewan uji yang terkena kanker,” kata mahasiswa angkatan 2013 tersebut.

Apa yang ditemukan Revo ini bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dikomandoi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Revo menunjukkan ada banyak perubahan dilakukan masyarakat Indonesia. Dia mampu menginsipirasi menemukan sebuah obat yang selama ini dicari-cari masyarakat untuk mengobati kanker payudara.

Apa yang ditemukan Revo ini bisa menginsipirasi anak muda lainnya mencari temuan lain dan bisa membantu pemerintah dalam perubahan mental.

Sumber :

http://www.disdikbud.lampungprov.go.id/perencanaan/afiksasi-adalah.html

Posted on: July 4, 2019, by :