Ilusi Tentang Epos

Ilusi Tentang Epos

Ilusi Tentang Epos

Ilusi Tentang Epos
Ilusi Tentang Epos

Menurut Marx, realitas adalah

proses sejarah yang terus menerus berlangsung, maka kunci untuk memahami realitas adalah memahami perubahan sejarah. Di sini Marx merumuskan sebuah konsepsi sejarah berbasis material, yang ditentukan oleh corak produksi masyarakat. Masyarakat (masyarakat sipil) terdiri dari bangunan bawah (basic structure) dan bangunan atas (superstructure). Bangunan bawah merupakan konfigurasi kekuatan produksi, tenaga produksi dan hubungan produksi yang diwarnai oleh kontradiksi-kontradiksi. Bangunan atas merupakan konfigurasi institusional dan kesadaran ideologis yang tentu saja merupakan ekspresi dari kelas borjuasi pembangun masyarakat sipil.[23]

 

Pada bagian ini Marx mengkritik konsepsi sejarah

yang ada di Jerman sebelumnya yang mendasarkan pada ilusi ke-eposan. Sejarah di Jerman dibangun oleh kepentingan politik agama untuk bergerak menuju “roh murni”, yang hal ini kemudian mempengaruhi pemikiran Hegel. Jadi, ilusi agama menjadi tenaga penggerak sejarah, dan hal ini lantas mereduksi ekspresi terbaik dari manusia dalam melakukan tindakan sejarah[24].

Marx menyinggung filsafat Feuerbach mengenai realitas dan pembebasan. Menurut Marx, Feuerbach keliru dalam memahami realitas karena melihatnya sebagai esensi dan bukan eksistensi. Realitas manusia yang mensejarah dalam konteks Jerman adalah “manusia Jerman”, tetapi kata Marx, Feuerbach malah mengabstrakkan realitas manusia Jerman menjadi “manusia yang nyata mensejarah”. Persisnya, Marx mengkritik konsep “bangsa manusia” (gattung, spesies being) yang malah tidak nyata, melainkan abstrak.

 

Hal yang terpenting dalam bagian ini ialah ialah

konsepsi Marx tentang kelas, sebagai perwujudan dari adanya ide dan kelas penguasa (ruling ideas dan ruling class). Gagasan yang berasal dari kelas penguasa dalam setiap epos merupakan gagasan yang berkuasa di dalam masyarakat. Kelas yang berkuasa menguasai kekuatan produksi (material) dan intelektual terhadap kelas proletar yang hanya memilik tenagakerja. Realisasi hubungan antara kelas ini berada dalam pembagian kerja, berbagai bentuk pertukaran ekonomis dan penaklukan (conquest), yang di dalam hubungan antar kelas ini berlangsung kontradiksi utama. Menurut Marx, kontradiksi kelas ini merupakan daya penggerak kekuatan sejarah. Maka revolusi, yakni perjuangan kelas proletar untuk memecahkan kontradiksi industri besar, merupakan hal niscaya untuk penghapusan kepemilikan pribadi kelas berkuasa. Jadi perkembangan sejarah masyarakat yang bergerak dari corak produksi masyarakat Asiatik, menuju Perbudakan, menuju Feodalisme, menuju Kapitalisme, menurut Marx akan berakhir dalam masyarakat Komunisme.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia

Posted on: July 19, 2019, by :