Pandangan Kritik Terhadap Materialisme Sejarah

Pandangan Kritik Terhadap Materialisme Sejarah

Pandangan Kritik Terhadap Materialisme Sejarah

Pandangan Kritik Terhadap Materialisme Sejarah
Pandangan Kritik Terhadap Materialisme Sejarah

Secara keseluruhan, dari fase pemikiran

“Marx Muda” dan “Marx Tua”, baik Magnis-Suseno (1999), Elster (1986), Easton & Guddat (1967), maupun Gasper (2004) mengakui pemikiran Marx tidak tergoyahkan dan tetap menantang sampai dewasa ini. Kata Magnis-Suseno: “Marx, dan hanya Marx, mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasarnya filosofi namun kemudian menjadi teori perjuangan sekian banyak generasi pelbagai gerakan pembebasan”. Hanya Marx yang menuntut agar filsafat menjadi pendorong perubahan sosial, dan pemikiran Marx memberi inspirasi filsafat kritis abad 20, bahkan juga memasuki kawasan ilmu-ilmu sosial.”[27] Kata Elster: “Teori-teori Marxian seperti alieanasi, penindasan, perubahan teknologi, perjuangan kelas dan kritik ideologi masih tetap valid dan penting bagi kita dewasa ini[28]”. Pendapat ini meneguhkan betapa filsafat Marx menyumbang aspek positif dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan gerakan sosial.

 

Secara khusus pada konsepsinya

mengenai materialisme sejarah, menurut Elster, Marx telah menulis teori sejarah empirik dan filsafat sejarah spekulatif. Materialisme sejarah merupakan penyelidikan terhadap tahap masyarakat kelas sejarah yang secara empiris ditentukan oleh corak produksi masyarakat. Dalam pengertian filsafat sejarah spekulatif, Marx telah membagi ke dalam tiga tahap perkembangan sejarah, yakni masyarakat pra-kelas (kesukuan/primitif), masyarakat kelas (feodal-industrialis) dan masyarakat pasca-kelas (komunis). Simpul Elster, materialisme sejarah memiliki dua sisi pandangan, yakni di satu pihak tentang teori umum struktur dan dinamika dari setiap cara produksi, dan di lain pihak merupakan teori tentang urutan sejarah cara-cara produksi. Sisi yang pertama mengungkap tentang persamaan-persamaan yang terdapat dalam semua cara produksi, yang kedua mengupas tentang mengapa perbedaan itu terjadi[29]. Magnis-Suseno menyatakan materialisme sejarah serupakan dasar klaim bahwa sosialisme adalah ilmiah.

 

Dua sisi pandangan dalam materialisme sejarah

tersebut menurut saya merupakan kekuatan dari konsep materialisme sejarah. Dalam ilmu sejarah, kekuatan materialisme sejarah telah memberi sumbangan yang cukup besar terhadap ketajaman mazhab sejarah sosial, baik untuk aspek analisa sosial-ekonomi-politik dari masa lalu, maupun aspek pembebasan ilmu sejarah dari dominasi kelas yang berkuasa, sehingga memungkinkan penulisan sejarah dari bawah atau “wong cilik”. Dari sisi politik dan sosiologi, materialisme sejarah berhasil membersihkan tahayul agama, mengutip Lili Tjahjadi[30], “mengajak kita waspada akan penyalahgunaan argumen-argumen agama untuk menindabobokkan orang dengan membawanya ke dunia gaib ketimbang berupaya mengembangkan dirinya membangun masyarakat”. Tetapi, tetaplah materialisme sejarah mempunyai aspek kelemahannya. Pertama, dalam pembagian kerja, Marx menekankan pada faktor obyektif kekuatan produksi, tetapi kurang jeli melihat faktor hubungan gender di dalamnya.

 

Di sisi lain Marx menyatakan bahwa perempuan (isteri)

menjadi budak dalam kepemilikan pribadi keluarga tanpa menjelaskan hubungan gender sebagai problem historis dalam kepemilikan pribadi. Kedua, dasar alienasi dinyatakan terjadi di dalam pembagian kerja dan pekerjaan yang produktif (berhubungan dengan kekuatan produktif), tetapi kenyataannya juga terjadi pembagian kerja secara gender yang mendasari kerja perempuan di ranah reproduktif. Pekerjaan reproduktif untuk menciptakan tenaga kerja dan generasi baru juga mengalienasi perempuan. Pertanyaannya adalah apakah kerja reproduktif tidak merupakan dasar alienasi, khususnya terhadap perempuan?

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi

Posted on: July 19, 2019, by :