Reza William Martunus

Reza William Martunus

Reza William Martunus

Reza William Martunus
Reza William Martunus

Pengantar

Makalah ini akan membahas bagaimana Hannah Arendt melihat hubungan antara politik dengan kebenaran. Untuk itu saya akan memulainya dengan pernyataan bahwa poilitik dan kebenaran tidak bisa berjalan berdampingan dan keburukan atau kejahatan itu banal. Bagaimana keterkaitan semua itu?

Arendt menulis sebuah buku yang berjudul “Eichmann in Jerusalem”, buku yang ia tulis setelah ia mengikuti persidangan salah satu tokoh perancang holocaust, Adolph Eichmann pada tahun 1961. Dari persidangan yang ia ikuti ini ia mengamati keseharian Eichmann yang kemudian menurutnya tidak sebagaimana orang bayangkan sebagai monster, melainkan sebaliknya, sangat biasa. Menurut Arendt seperti tidak adanya ciri-ciri yang memperlihatkan antara kepribadian seseorang dengan tindakan yang diperbuatnya. Perbuatan buruk seseorang tidak tercerminkan dari kesehariannya. Dari pembahasan ini kita dapat melihat bagaimana kemudian posisi kebenaran dalam pandangan Arendt.

 

Politik dan kebenaran tidak berjalan dalam arah yang sama

keduanya tidak bisa disandingkan sebagai sesuatu yang harmonis. Dapat dikatakan tidak ada kebenaran dalam keutamaan politik. Sedangkan kebohongan menjadi sesuatu yang penting dan dapat dibenarkan dalam politik. Padahal bukankah hubungan antara satu manusia dengan manusia lain dalam masyarakat didasarkan pada kepercayaan? Di mana kepercayaan itu sendiri disandarkan pada kebenaran. Dan sepanjang sejarah kita bisa melihat bagaimana pertarungan ini terjadi, bagaimana mereka yang memperjuangkan kebenaran kemudian menjadi bulan-bulanan dan terancam. Posisi ini merupakan posisi yang berseberangan dengan kekuatan politik yang sedang berjalan saat itu. Dan posisi apapun yang berseberangan dengan kekuatan politik berkuasa maka dengan sendirinya merupakan posisi yang membahayakan stabilitas sosial, dan artinya membahayakan hegemoni dalam masyarakat.

 

Keburukan dan Kebenaran

Untuk memahami kebenaran dalam pandangan Arendt, saya akan mulai justru dari pendapat Arendt mengenai keburukan (evil). Setelah mengamati persidangan Eichmann, Arendt berkesimpulan bahwa kejahatan atau keburukan adalah banal. Bukan semata muncul dari dorongan untuk berbuat jahat atau kesenangan untuk berbuat buruk, tapi kecenderungan tersebut dapat terjadi karena adanya masalah dalam pemikiran dan penilaian yang mengakibatkan kegagalan manusia melihat secara jernih mengenai tindakan dan keputusan yang diambilnya. Ia mencontohkan keseharian Eichmann yang sama sekali berbeda dengan bayangan seorang monster yang memikirkan bagaimana menghabisi jutaan manusia dengan cara yang efektif.

 

Kita, manusia, memiliki batas-batas nilai mengenai

apa yang disebut buruk. Dalam kondisi normal kita mungkin akan dengan sangat mudah mengenali batas-batas tersebut. Namun masalahnya kemudian, fakta memperlihatkan kepada kita, dalam sejarah, bahwa seringkali terjadi tindakan yang dalam keadaan normal, tidak akan kita lakukan dan kita akan dengan segera mengenalinya sebagai perbuatan yang buruk. Bagaimana ini mungkin terjadi? Apa kemudian kita mengingkari nilai-nilai yang kita sepakati secara sosial? Untuk itu saya coba menelusuri kebelakang dimana Arendt mendapatkan pengaruhnya mengenai keburukan. St. Augustine of Hippo, seorang filsuf Kristen Platonis, memiliki ketertarikan khusus pada bidang ini. Ia bergerak dari satu titik problematik yang masih merupakan perdebatan mengenai eksistensi Tuhan baik dalam Kristen, Judaisme maupun Islam, jika Tuhan maha kuasa dan Ia merupakan kebaikan, maka bagaimana mungkin ada kejahatan di dunia ini? Garis besar filsafatnya adalah; manusia merupakan makhluk yang rasional, dan untuk menjadi rasional, manusia memiliki kehendak bebas. Kehendak bebas artinya manusia mampu menentukan pilihannya sendiri antara kebaikan dengan keburukan, maka konsekuensi dari itu adalah manusia mampu berbuat keburukan dan sekaligus berbuat kebaikan. Maka ia berpendapat, apa yang membuat Adam mampu mematuhi perintah Tuhan merupakan hal yang sama yang mampu membuatnya berbuat dosa.

Baca Juga : 

Posted on: July 19, 2019, by :