Tanamkan Pendidikan Karakter Melalui Program Bhakti Kepada Guru

Tanamkan Pendidikan Karakter Melalui Program Bhakti Kepada Guru

Tanamkan Pendidikan Karakter Melalui Program Bhakti Kepada Guru

Tanamkan Pendidikan Karakter Melalui Program Bhakti Kepada Guru
Tanamkan Pendidikan Karakter Melalui Program Bhakti Kepada Guru

Kemajuan informasi teknologi yang begitu pesat, menjadi sebuah tantangan bagi tenaga pendidik (guru)

untuk bisa memberikan pemahaman kepada para peserta didiknya, sehingga menjadi generasi penerus yang memiliki karakter bagus.

Alasan ini yang menjadi pemicu PT. Charoen Pokphand Indonesia melalui Corporate Social Responbility (CSR), menggelar program Bhakti Kepada Guru menggandeng Universitas Diponegoro Semarang berupa penguatan pendidikan karakter bagi ratusan guru di Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Seperti diketahui, tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu s

ecara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.

Inisiator Program Bhakti Kepada Guru, Bagus Pekik mengungkapkan alasan dilaksanakannya kegiatan tersebut atas dasar permintaan rekan-rekan pengurus PGRI di Kota dan Kabupaten Sukabumi.

“Kegiatan bhakti kepada guru merupakan CSR PT. Charoen Pokphand Indonesia

yang di laksanakan di seluruh Indonesia. Karena sebelum risign (mengundurkan diri) per 1 September pernah diadakan di Kuningan dan Ciamis lalu saya upload di Facebook, rekan-rekan PGRI di Sukabumi meminta,” ujarnya saat dihubungi RMOLJabar, Kamis (25/10).

Meski tidak lagi bergabung di perusahaan tersebut, Bagus berusaha memperjuangkan ke managemen dan akhirnya disetujui dengan mengundang ratusan guru dari Kota dan Kabupaten Sukabumi.

“Karena saya merasa punya hutang, berjuang ke perusahaan untuk di laksanakan di Kota dan Kabupaten Sukabumi dan disetujui top manajemen,” tuturnya yang sebelum mengundurkan diri menempati posisi GM Marketing West Java Area PT Charoen Pokphand Indonesia.

Dijelaskannya, pendidikan karakter bertujuan bagaimana menciptakan guru ideal. Karena menurut penelitian Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, banyak guru-guru stress karena anak-anak lebih pintar ditengah kemajuan teknologi informasi khususnya media sosial.

“Materinya berupa pendidikan budi pekerti, kepemimpinan dan Pancasila. Terlebih guru sebagai ujung tombak,” tandas Bagus.

 

Sumber :

https://weareglory.com/sejarah-laut-jawa/

Posted on: August 8, 2019, by :