Ilmuan Dan Peneliti “Mangente” Sekolah Di Ambon

Ilmuan Dan Peneliti “Mangente” Sekolah Di Ambon

Ilmuan Dan Peneliti “Mangente” Sekolah Di Ambon

Ilmuan Dan Peneliti “Mangente” Sekolah Di Ambon
Ilmuan Dan Peneliti “Mangente” Sekolah Di Ambon

Sejumlah ilmuan dan peneliti dari berbagai lembaga ilmu pengetahuan dan universitas

berbagi pengalaman dan kisah sukses mereka dengan para pelajar SMP dan SMA di Kota Ambon melalui “Ilmuan Mangente Sekolah”, Senin (17/7).

Kegiatan berupa dialog ringan di aula SMA Negeri 1 Ambon tersebut, digelar oleh Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALKI) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Laut Dalam – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPLD-LIPI) dan Gerakan Menuju Ambon Ilmiah.

Ilmuan Mangente Sekolah merupakan rangkaian dari simposium para ilmuan Indonesia

dan Amerika (Indonesian-American Kavli Frontiers of Science Symposium 2017) di Ambon pada 17 – 21 Juli 2017.

Sejumlah ilmuan dan peneliti berpengalaman dari dua lembaga ilmu pengetahuan dan perguruan tinggi negeri terkemuka di tanah air dihadirkan dalam kesempatan itu.

Mereka yakni Sekjen Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia – AIPI, Budhi M. Suyitno, Kepala PPLD-LIPI, Augy Syahailatuadan dan peneliti di PPLD-LIPI, Yosmina Tapilatu .

Sedangkan dari universitas adalah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,

Teguh Dartanto, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Hasnawati Saleh dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Sudirman Nasir.

Begitu pula, ahli di bidang biokimia, Bruce Alberts, yang juga utusan khusus dari Amerika Serikat untuk Indonesian-American Kavli Frontiers of Science Symposium 2017.

Mangente adalah bahasa Melayu Ambon yang berarti mengunjungi. Mereka tidak sekedar berkunjung dan berbagi pengalaman.

Para ilmuwan dan peneliti yang hadir juga memotivasi pelajar dari SMA Negeri 1, SMA Siwalima, SMA Xaverius dan SMP Negeri 6 Ambon agar bercita-cita seperti mereka.

Bruce Alberts mengemukakan, menjadi ilmuan sudah harus dimulai sejak muda, maksimal ketika berusia 19 tahun, dengan menentukan bidang akademik yang akan ditekuni selepas SMA.

“Para pelajar untuk menjadi ilmuwan setelah lulus dari SMA harus melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di fakultas atau jurusan keilmuwan yang ingin ditekuni,” katanya.

Menurut penulis buku Molecular Biology of the Cell yang digunakan sebagai buku ajar di berbagai universitas di dunia itu, menentukan fakultas atau jurusan lanjutan yang tepat setelah SMA juga menjadi faktor penting untuk bisa menjadi seorang ilmuan.

Sedangkan, Yosmina Tapilatu mengatakan berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti, hambatan bagi proses kerja seorang ilmuan ada hampir di segala bidang.

Khusus di Maluku, masih terkendala dengan masalah infrastruktur pendukung penelitian dan pendanaan.

“Hambatan itu menjadi tantangan bagi seorang ilmuan untuk bisa beradaptasi dengan kondisi yang ada dan tetap memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan,” katanya.

 

Baca Juga :

Posted on: September 6, 2019, by :