Telah Hilang Kultur Keramahan Indonesia

Telah Hilang Kultur Keramahan Indonesia

Sekarang ini saya menjadi berpikir kenapa dulu hingga tersedia slogan masyarakat indonesia ramah tamah dan di dengungkan ke seantero nusantara. Sepertinya selagi ini negeri kita tercinta sudah jauh berasal dari ajaran para guru sewaktu di sekolah dasar dulu. Saat itu, Indonesia merupakan negeri yang miliki rasa toleransi yang tinggi bersama saling menghargai antar pemeluk agama. Namun, ajaran tersebut dimungkinkan berangsur-angsur hilang. Bukankah kita dilahirkan karena ada kasih sayang berasal dari Ibu – Bapak?

Kekerasan sesama pemeluk agama ulang berjalan dan sudah memakan korban bersama menewaskan saudara sebangsa. Sekelompok orang menyerbu dan membantai anggota jemaah Ahmadiyah di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten sebagian selagi lalu. Sejumlah orang meninggal dan cidera dihakimi massa yang berpikiran mereka sesat.

Itu peristiwa berdarah pertama tahun ini yang dibingkai sentimen keyakinan, dan insiden kesekian kali yang menimpa grup minoritas itu. Ia terhitung sekaligus melengkapi kenyataan bahwa hingga kini kekerasan pada grup minoritas tak kunjung sanggup dibendung.

Tahun lalu, sebagaimana dilaporkan Setara Institute, tercatat 216 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan di 20 provinsi. Tingkat pelanggaran tertinggi di Jawa Barat, 91 peristiwa. Lalu Jawa Timur 28, Jakarta 16 insiden, Sumatera Utara 15 dan Jawa Tengah 10 peristiwa.

Penindasan pada grup minoritas itu ulang perlihatkan tentang kondisi nyata kebebasan beragama/berkeyakinan di Tanah Air belum mendapat jaminan utuh berasal dari negara. Praktik intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan masih terus terjadi.

Padahal secara normatif negara sudah meneguhkan komitmennya melalui Pasal 28 e ayat (1 dan 2) UUD 1945. Jaminan yang sama terhitung tertuang dalam UU No 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No 12/2005 tentang Pengesahan Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik. Namun demikian, politik pembatasan pada hak itu masih terus terjadi.

Sebelum insiden Cikeusik, Banten, publik pasti masih ingat peristiwa di Mataram Nusa Tenggara Barat. Bagaimana, warga mengintimidasi dan mengusir dan membakar permukinan dan tempat ibadah saudara sebangsanya. Peristiwa di Bogor dan Kuningan Jawa Barat terhitung demikian, atau peristiwa Bekasi, dikala umat Nasrani dihalang-halangi dan diusir berasal dari tempat mereka beribadah.

Artikel Lainnya : motivation letter

Semua insiden itu menyisakan luka batin dan cidera fisik yang pasti disertai korban harta benda, bahkan nyawa. Negara seharusnya tak tunggu perihal itu berjalan karena undang- undang sudah menggariskan demikian.

Publik sering terheran-heran, mengapa orang sesuku dan seagama sanggup baku bunuh. Padahal, sudah berabad-abad kita hidup dalam kondisi yang tenang dan bersama menciptakan kerukunan yang menjadi suatu hal yang khas dalam kehidupan bangsa, seperti yang diajarkan para pendidik kita sewaktu di sekolah dasar dulu.

Tapi itulah yang terjadi. Kita kadang tak habis mengerti, mengapa tersedia saja orang atau grup yang memaksakan kehendaknya atas orang atau grup lain. Sungguh memilukan hati!

baca juga :

Posted on: November 26, 2019, by :