Metode Tradisional dalam Penilaian Prestasi Karyawan
Posted in: Pendidikan

Metode Tradisional dalam Penilaian Prestasi Karyawan

Metode Tradisional dalam Penilaian Prestasi Karyawan

Metode Tradisional dalam Penilaian Prestasi Karyawan

Metode ini merupakan metode tertua dan paling sederhana untuk menilai prestasi karyawan dan diterapkan secara tidak sistematis maupun dengan sistematis. Yang termasuk dalam metode tradisional ini adalah:

a. Rating Scale 

Metode ini merupakan metode penilaian yang paling tua dan banyak digunakan, dimana penilaian yang dilakukan oleh atasan atau supervisor untuk mengukur karakteristik, misalnya mengenai inisiatif, ketergantungan, kematangan, dan kontribusinya terhadap tujuan keijanya.
b. Employee Comparation
Metode ini merupakan metode penilaian yang dilakukan dengan cara membandingkan antara seorang pekeija dengan pekeija lainnya. Metode employee comparation ini terbagi atas subkelompok, yaitu:
– Alternation Ranking
Metode ini merupakan metode penilaian dengan cara mengurut peringkat (ranking) karyawan dimulai dari yang terendah sampai yang tertitiggi atau dari mulai bawahan sampai yang tertinggi dan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
– Paired Comparation
Metode ini adalah metode penilaian dengan cara seorang karyawan dibandingkan dengan seluruh karyawan lainnya, sehingga terdapat berbagai alternatif keputusan yang akan diambil. Metode ini dapat digunakan nntukjumlah karyawan yang sedikit.
Misalkan ada 5 orang karyawan yang akan dinilai, yaitu A, B, C, D, dan E. Dengan menggunakan cara ini berarti penilaian perlu dibandingkan karyawan A dengan B, A dengan C, A dengan D dan A dengan E.
Setelah itu dibandingkan pula B dengan C, B dengan D, dan B dengan E. Jumlah yang akan diperbandingkan dapat dihitung dengan rumus:
n(n-1)
dengan demikian metode paired comparation ini sulit dilakukan untuk menilai jumlah karyawan yang banyak, karena banyak mengorbankan waktu dan biaya.
Porced Comparation (Grading) 
Metode ini sama dengan paired comparation tetapi digunakan untuk jumlah karyawan yang banyak. Pada metode ini suatu definisi yang jelas untuk setiap kategori telah dibuat dengan seksama. Kategori untuk prestasi karyawan misalnya adalah “baik sekali, memuaskan, dan kurang memuaskan” yang masing-masing mempunyai defmisi yang jelas. Prestasi kerja dari setiap karayawan kemudian dibandingkan dengan definisi masing-masing kategori ini untuk memasukkan ke dalam salah satunya. Kadang-kadang metode ini diubah menjadi penilain dengan distribusi yang dipaksakan. Misalkan ditetapkan hasil penilaian bobot sebagai berikut: 10% dari karyawan harus masuk ke kelompok yang tertinggi, 20% harus masuk ke1ompok baik, 40% harus masuk ke1ompok cukup baik, 20% harus termasuk kelompok sedang dan 10% termasuk kelompok kategori prestasi kurang.
Dengan demikian metode ini mengharuskan penilai (appraiser) melakukan penilaian relatif di antara para karyawan tersebut di samping membandingkannya dengan definisi masing-masing kategori.
c. Check List 
Dengan metode ini penilai sebenarnya tidak menilai tetapi hanya memberikan masukan atau informasi bagi penilaian yang dilakukan oleh bagian personalia, Penilai tinggal memilih kalimat-kalimat atau kata-kata yang menggarnbarkan prestasi keerja dan karakteristik setiap individu karyawan, baru melaporkannya kepada bagian personalia untuk menetapkan bobot nilai, indeks nilai, dan kebijaksanaan selanjutnya bagi karyawan bersangkutan.
d Freeform Essay 
Dengan metode ini seorang penilai diharuskan membuat karangan yang berkenaan dengan orang atau karyawan yang sedang dinilainya itu.
e. Critical Incident 

Dengan metode ini penilai hams mencatat semua kejadian mengenai tingkah laku bawahannya sehari-hari kemudian dimasukkan ke dalam buku catatan khusus yang terdiri dari berbagai macam kategori tingkah laku bawahannya. Misalnya mengenai inisiatif, kerjasama, keselamatan dan lain-lain;


Baca Juga :