Posted in: Pendidikan

PENGERTIAN MAKRIFAT

PENGERTIAN MAKRIFAT

Ma’rifat berasal dari kata “AL Ma’rifah” yang berarti mengenal atau mengetahui yaitu mengenal atau mengetahui akan allah SWT dengan cara memperhatikan segala hasil ciptaan-NYA.Yaitu mengenal allah dengan budi daya mengerahkan segala potensi akal dan batin.Dasar yang diberikan oleh rosulullah adalah sebuah hadist yang bunyinya

Artinya : Hai Abu Dzar! Sembahlah allah seolah-olah engkau melihat kepada-NYA.Bila engkau tidak melihat allah maka yakin kan (dalam hati) bahwa allah melihat engkau (al hadist).

Ma’rifat dalam istilah berarti mengenal allah ketika shufi mencapai maqam dalam tasawuf.kemudian istilah ini dirumuskan defenisinya oleh berberapa ulama tasawuf antara lain:

  1. Dr. Mustafa Zahir mengemukakan salah satu pendapat ulama tasawuf yang mengataakan ma’rifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayainya hadirnya)wujud yang wajib adanya (allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.
  2. Asy-syekh ihsan Muhammad dahlan al-kadiriy mengemukakan ma’rifat adalah hadirnya kebenaran allah (pada shufi) dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan nur ilahi
  3. Imam Al-Qusyairy mengemukakan ma’rifat membuat ketenangan hati sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran).Barangsiapa yang mengingat ma’rifatnya ,maka mengingat pula ketenangan hatinya.

Ma’rifat secara umum adalah yang dilakukan orang alim yang sesuai dengan maksud dan tujuan ilmu sendiri.sedangkan ma’rifat menurut ahli shufi ialah rasa kesadaran kepada allah akan sifat dan asma-NYA.Ma’rifat sebagai pengetahuan yang hakiki dan  menyakinka,menurut Al Gazali tidak didapatkan  lewat pengalaman inderawi,juga tidak dicapai lewat penalaran rasional,tetapi lewat qalbu yang mendapatkan ilham atau limpahan nur dari tuhan sebagai pengalaman sufistik. Tersingkap segala realitas yang tidak dapat ditangkap oleh indera dan tidak terjangkau oleh akal (rasio).

Sumber dan tingkatan ma’rifat  menurut Al-Gazali

  1. Pancaindra menurutnya,pancaindra adalah termasuk juga sumber ma’rifah.Tetapi berkerjanya hanya dalam berberapa sumber dan tidak dalam  hal lain.
  2. Akal sebagaimana pancaindra,akal juga adalah merupakan salah satu sumber ma’rifah dalam berberapa sumber ,dan ia bukanlah segala-galanya.menganggap dan memberikan cangkupan yang luas terhadap akal sebagai sumber ma’rifah dapat menyebabkan penyepelehan terhadap Al-Qur’an sebagai yang utama.
  3. Wahyu menurutnya wahyu adalah sumber tersebar bagi ma’rifah.Wilayah cangkupnya sangat luas,sesuai dengan posisinya sebagai sumber pertama dan utama bagi ajaran islam.
  4. Kasyf menurutnya,kasyf adalah cahaya yang dihujamkan tuhan ke dalam hati hamba sehingga hatinya dapat melihat dan merasakan sesuatu dengan ain al-yaqin.Kasyf adalah sumber kedua bagi ma’rifah yang terbesar setelah wahyu.

Tidak semua orang yang menuntut ajaran tasawuf dapat sampai kepada tingkatan  ma;rifah.karena itu sufi yang sudah mendapatkan ma’rifah ,memiliki tanda-tanda tertentu sebagaimana keterangan dzun nun al-mishir yang mengatakan ada berberapa tanda yang dimiliki oleh sufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifah antara lain

  1. Selalu memancarkan cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan perilakunya karena itu sikap wara selalu ada pada dirinya.
  2. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata,karena hal-hal yang nyata menurut ajaran tasawuf belum tentu benar.
  3. Tidak menginginkan nikmat allah yang banyak buat dirinya karena hal itu bisa membawahnya kepada perbuatan yang haram.

Dari sini lah kita kita dapat melihat bahwa para shufi tidak membutuhkan kehidupan yang mewah ,kecuali tingkatan kehidupan yang sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada allah SWT.Sehingga asy syekh Muhammad bin al fadhal mengatakan bahwah ma’rifah yang dimiliki sufi cukup dapat memberikan  kebahagian batin padanya karena mereka merasa selalu bersama-sama dengan tuhannya.

Baca juga: