Posted in: Umum

PENGERTIAN MUJMAL, SEBAB MUJMAL, PENYEBAB SAMARNYA LAFAL MUJMAL, HUKUM MUJMAL

PENGERTIAN MUJMAL, SEBAB MUJMAL, PENYEBAB SAMARNYA LAFAL MUJMAL, HUKUM MUJMAL

Hubungan antara hukum Islam atau fiqih Islam dengan pengetahuan bahasa Arab merupakan hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Alasannya sangat jelas. Karena sumber pokok dari hukum Islam itu adalah Al-Qur’an dan Hadits yang nota bene memakai atau menggunakan bahasa Arab standar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab atau ilmu nahwu dan sharaf. Kalau kita menengok kepada lafadz-lafadz yang digunakan di dalam ayat-ayat al-Qur’an dan dalam Hadits Nabi, maka dapat disimpulkan bahwa diantara lafadz yang digunakan di dalam ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits tersebut ada lafadz yang jelas penunjukan atau pengertian atau maknanya. Di samping itu ada pula lafaz yang tidak jelas atau samar maknanya. Diantara yang tidak jelas maknanya itu ada yang disebut dengan Mujmal yang berlawanan dengan lafadz Mubayyan. Pembahasan atau makna dari suatu ayat al-Qur’an atau suatu Hadits Nabi. Mujmal dan Mubayan inilah yang menjadi objek pembahasan dalam makalah ini, dimana kedua istilah Mujmal dan Mubayan tersebut akan diuraikan secara ringkas, baik dari segi pengertian bahasa (etimologi) maupun dari segi pengertian istilah ( terminologi ) ushul fiqih, serta beberapa contoh tentang hal-hal tersebut.

al- mujmal

Secara bahasa berarti samar-samar dan beragam/majemuk. Secara istilah berarti: lafadz yang maknanya tergantung pada lainnya, baik dalam menentukan salah satu maknanya atau menjelaskan tatacaranya, atau menjelaskan ukurannya.

1.      Contoh:  lafadz yang masih memerlukan lainnya untuk menentukan maknanya:
kata ” rapat ” dalam bahasa Indonesia misalnya memiliki dua makna: perkumpulan dan tidak ada celah. Sedangkan dalam al Qur’an misalnya surat al Baqarah: 228

وَالْمُطَلَقَاتُ يَتَرَبَصْنَ بِاَنْفُسِهِنَ ثَلَاثَةَ قُرُوء

wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.

kata ” قروء  ” dalam ayat ini bisa berarti : suci atau haidh. Sehingga untuk menentukan maknanya membutuhkan dalill lain.

2.      contoh:  lafadz yang membutuhkan lainnya dalam menjelaskan tatacaranya.
Surat  An Nur: 56

وَاَقِيمُ الَصَلَوةَ

Dan dirikanlah sembahyang.,

Kata “ mendirikan shalat” dalam ayat di atas masih mujmal/belum jelas karena tidak diketahui tatacaranya, maka butuh dalil lainnya untuk memahami tatacaranya. Begit pula ayat- ayat haji dan puasa
Dari definisi tersebut, dapat difahami bahwa Mujmal itu adalah suatu lafazh yang dzatiahnya khafi, tidak bisa dipahami maksudnya, kecuali bila ada penjelasan dari syara’ baik ketidak jelasannya itu akibat peralihan lafazh dari makna yang jelas pada makna khusus yang dikehendaki syara’ ataupun karena sinonim lafazh itu sendiri ataupun karena lafazh itu ganjil artinya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mujmal lebih tinggi kadar khafa-nya dari pada musykil, sebab penjelasan mujmaldiperoleh dari syara’ bukan hasil ijtihad. Contohnya lafazh shalat, menurut bahasa berarti doa, tetapi menurut istilah syara’ adalah ibadah khusus yang segala sesuatunya dijelaskan oleh Rasulullah saw.
Dari aspek keharusan adanya penjelasan dari syara’ tentang lafazh mujmal itu timbul masalah, yaitu sejauh manakah penjelasan syara’ itu. Sunnah dapat memberikan penjelasan mujmal sepanjang tidak ada penjelasan nash Al-Quran. Oleh sebab itu untuk mencari penjelasan mujmal terlebih dahulu harus melihat nash Al-Quran.
Contoh lafal yang mujmal, sebagaimana firman Allah:
المطلقَّات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء
“Perempuan yang diceraikan suaminya, menantikan iddahnya tiga quru” (Q.S.al-baqarah : 228)
Lafal quru ini disebut mujmal karena mempunyai dua arti, yaitu haid atau suci. Kemudian mana diantara dua macam arti yang dikehendaki oleh ayat tersebut maka diperlukan penjelasan, yaitu bayan. Itulah suatu contoh ijmal dalam lafal tunggal.
Contoh dalam lafal murakkah (susunan kata-kata) sebagai berikut:
او يعفوالذى بيده عقدة النكاح . (البقره : ۲۳٧)
“Atau orang yang memegang ikatan pernikahan memaafkan”. (Q.S. Al-Baqarah : 237)
Dalam ayat tersebut masih terdapat Ijmaltentang menentukan siapakah yang dimaksud orang yang memegang kekuasaan atas ikatan pernikahan itu, mungkin yang dimaksud suami atau wali. Kemudian untuk menentukan siapa diantara kedua itu yang dimaksud pemegang ikatan nikah maka diperlukan bayan.

https://movistarnext.com/