Posted in: Fashion, Kesehatan

 Konsep rezeki dalam perspektif Al Qur’an

 Konsep rezeki dalam perspektif Al Qur’an

Berwirausaha memberi peluang kepada orang lain untuk berbuat baik dengan cara memberikan pelayanan yang cepat, membantu kemudahan bagi orang yang berbelanja, memberi potongan, dll. Perbuatan baik akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan turut membantu kesehatan jasmani. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The Healing Brain yang menyatakan bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berfikir, tetapi untuk mengembalikan kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan banyak dipengaruhi oleh frekuensi perbuatan baik. Dan aspek kerja otak yang paling utama adalah bergaul, bermuamalah, bekerja sama, tolong menolong, dan kegiatan komunikasi dengan orang lain.

Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat, memiliki ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.

Di dalam Al Qur’an Surah An Nisa’ ayat 100, Allah SWT. berfirman :

يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

Artinya :

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Berdasarkan ayat tersebut, Allah SWT. menghimabu hamba-hambaNya yang mukmin agar berhijrah dan meninggalkan kampung halaman untuk menemukan tempat berlindung dan memperoleh rezeki yang banyak. dengan demikian, mereka akan memperoleh kehidupan yang layak.

Dan di dalam surah Hud ayat 6, Allah SWT. berfirman :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Artinya :

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya Dijamin Allah rezekinya. Dia Mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.** Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Allah SWT. memberitahu bahwa Dia menjamin memberi rezeki bagi semua makhlukNya, baik ia binatang melata, besar maupun kecil, di darat maupun di laut. Dia mengetahui dimana tempat binatang itu berdiam dan dimana ia menyimpan makanannya. semua itu tercatat di dalam sebuah Kitab yang terang dan nyata (yakni Lauh Mahfudz).

Allah SWT. telah menentukan rezeki tiap-tiap umatNya, namun umat itu sendiri harus berusaha dengan segenap daya dan upayanya untuk meraih dan mendapatkan rezeki tersebut. Dengan berwirausaha, menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan rezeki tersebut sebagai mana dicontohkan oleh baginda Rasulullah dalam hal perdagangan.

Apa yang tergambar di atas, setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang dimiliki oleh umat Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi, “Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki” (HR. Ahmad).

Sumber :

https://wisatalembang.co.id/xiaomi-berencana-tambah-layanan-purnajual/